Ilmu Kertas vs Ilmu Kalbu

1506422_626540267400330_1192599922_n

“Seorang khalifah Sayyidina Abdul Qadir al-Jilani (q) mempunyai seorang putra yang ia kirim untuk mempelajari Syari`ah pada level tertinggi.  Putranya menjadi seorang ulama Islam, setelah ia belajar selama delapan tahun, dan selama itu ia melihat ayahnya duduk di kursi dan memberi pelajaran kepada murid-muridnya.  Duduk di kursi bukan berarti kalian lebih tinggi posisinya daripada orang lainnya, tetapi orang dapat melihat kalian lebih baik dan kalian dapat melihat mereka.  Jadi ia duduk dan memberi pelajaran kepada murid-murid yang memperhatikannya dengan penuh perhatian, sampai-sampai kalian bisa mendengar bila ada sebuah peniti yang jatuh.  Suatu hari putranya berkata pada dirinya sendiri, “Jika pemandangan seperti itu terjadi pada ayahku yang tidak mencapai level ilmuku, seperti apa mereka bila aku yang mengajari mereka?  Mereka akan terbang dan setiap orang akan kagum dengan apa yang akan kukatakan!”   

Sekarang, lihat perbedaannya: ayahnya yang merupakan seorang khalifah dari seorang Ghawts, Sayyidina Abdul Qadir al-Jilani (q), yang diberikan ilmu spiritual, dengan anaknya, yang diberi ilmu akademis.  Orang dengan ilmu akademis dapat memberi kalian ceramah yang fasih yang penuh dengan ilmu, tetapi ulama spiritual dapat memberi kalian lebih banyak ilmu spiritual.

Jadi, putranya berkata, “O! Apa yang diketahui oleh orang-orang spiritual ini?  Aku akan bicara sesuatu yang tidak pernah didengar oleh orang-orang sebelumnya!”  Meskipun ayahnya mengetahui rahasia-rahasia kalbu, sebagaimana Nabi (s) bersabda,

ولا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه، فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره الذي يبصر به، ويده التي يبطش بها ورجله التي يمشي بها،

Wa laa yazaala `abdii yataqarabu ilayya bi’ n-nawaafil hatta uhibbah. Fa idzaa ahbaabtahu kuntu sama`uhulladzii yasma`u bihi wa basharahulladzii yubshiru bihi, wa yadahulladzii yabthishu bihaa wa rijlahullatii yamsyii bihaa. 

Hamba-Ku tidak akan berhenti mendekati-Ku melalui ibadah sunnah (nawafil) sampai Aku mencintainya. Ketika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia melakukan sesuatu, dan kakinya yang dengannya ia berjalan (dan dalam versi lain termasuk juga, “dan lidahnya yang dengannya ia berbicara”). (Hadits Qudsi, Bukhari)

Sang ayah melihat di dalam kalbu putranya bahwa ia benar-benar ingin memberikan nasihat, lalu ia berkata, “Wahai putraku, aku merasa lelah, jadi kau saja yang berbicara hari ini.”  Sekarang setiap orang harus menjadi seorang profesor, Syekh, atau “Syekh Google”, dan kalian tidak tahu apakah mereka mengetahui sesuatu atau hanya sekedar salin dan tempel (copy-paste)!  Jadi putranya sangat gembira untuk duduk di kursi dan memberi pelajaran.  Namun demikian, lewat dari sepuluh menit separuh orang tertidur, dan setelah lima atau sepuluh menit kemudian, separuhnya lagi sudah kehilangan fokus dan mereka juga tertidur!  Seperti halnya di dalam sebuah konferensi, barangkali 90% orang tertidur dan sebagian lagi yang tertarik, mereka membuat catatan.

Kemudian ia melihat bahwa apapun yang disampaikannya dari level keilmuan tingginya, mereka tidak mendengarkannya, jadi ia menjadi marah dan pergi menemui ayahnya.  Ayahnya bertanya, “Wahai putraku, bagaimana pengajianmu?”

Ia berkata, “Wahai ayahku!  Kau tahu bahwa ilmuku lebih tinggi dari ilmumu.”

Dan ayahnya berkata, “Ya, tentu saja dalam hal “teori” kau tahu lebih banyak, tetapi kau tidak mempunyai ilmu spritual untuk mendeteksi penyakit (kalbu) dan kau tidak tahu bagaimana cara memberi resep (untuk penyakit itu).  Ketika kau duduk di kursi untuk bicara, pertama kau harus mengatakan pada diri sendiri, “Pelajaran ini pertama adalah untukku, lalu bila mereka mau mendengar, mereka boleh mendengarnya.”  Jangan menjadi arogan dengan berpikir bahwa kau keluar dari telur dengan cepat dan tidak ada orang yang dapat berbicara denganmu!”

 

“A khalifah of Sayyidina Abdul Qadir al-Jilani (q) had a son whom he sent to learn the highest level of Shari`ah. His son became a scholar of Islam after eight years of study, during which he saw his father sit on the chair and teach many students. Sitting on the chair doesn’t necessarily mean you are higher than everyone, but people can see you better and you can see them. So he was sitting and teaching many students who paid close attention to him to the point that you could hear a pin drop. One day the son said to himself, “If this is with my father who didn’t reach the level of my knowledge, how would they be if I were to give a lecture? They would be flying and everyone would be amazed with what I have to say!” 

Now see the difference: the father who was a representative of the Ghawth, Sayyidina Abdul Qadir al-Jilani (q), who was given spiritual knowledge, and his son was given academic knowledge. The person with scholarly knowledge can give you an eloquent lecture filled with knowledge, but the spiritual scholar can give more spiritual knowledge. 

So the son said, “O! What do these spiritual people know? I will speak of something that people have never heard of before!” although his father knew the secrets of hearts, as the Prophet (s) mentioned: 

ولا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه، فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره الذي يبصر به، ويده التي يبطش بها ورجله التي يمشي بها،

Wa laa yazaala `abdee yataqarabu ilayya bi’ n-nawaafil hatta uhibbah. Fa idhaa ahbaabtahu kuntu sama`uhulladhee yasma`u bihi wa basarahulladhee yubsiru bihi, wa yadahulladhee yabtishu bihaa wa rijlahullatee yamshee bihaa. 

My servant does not cease to approach Me through voluntary worship until I will love him. When I love him, I will become the ears with which he hears, the eyes with which he sees, the hand with which he acts, and the legs with which he walks (and other versions include, “and the tongue with which he speaks.”). (Hadith Qudsi, Bukhari) 

The father saw in his son’s heart that he really wanted to give advice, and said, “O my son! I am tired so go speak today.” Nowadays everyone has become a professor, a Shaykh, or a “Google Shaykh” and you don’t know if they know anything or if they are just copying and pasting! So the son was very happy to sit on the chair and give the lecture. However, after the first ten minutes half of the people were asleep, and after another five or ten minutes the other half lost focus and were also asleep! Like in any conference, perhaps 90% of the people are sleeping and some who are interested take notes. 

Then he saw that whatever he was telling them from his high-level scholarship they were not listening to him, so he became angry and went to his father, who asked him, “O my son, how was it?” 

He said, “O my father! You know that my knowledge is more than your knowledge.” 

And his father said, “Yes, for sure in ‘theory’ knowledge you know more, but you don’t have the spiritual knowledge to detect illnesses and you don’t know how to give prescriptions. When you sit on the chair to speak, you must first address yourself, saying, ‘This lecture is for myself first, then if they want to listen they can,’ not to be arrogant thinking that you came out of the egg quickly and that no one can speak to you!”

As-Sayyid Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

© Sufilive.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s