Meditasi Sufi/Muraqabah

1900006_624375667616790_210056612_n

“Seseorang yang ingin mencapai maqam meditasi dengan Tuhannya pertama harus mempersiapkan diri.  Seorang mursyid mengajarkan murid-muridnya bagaimana seharusnya mereka agar mereka siap mencapai meditasi Tuhannya.  Ia melakukan hal ini melalui Meditasi Sufi (Muraqabah).  Apakah murid-muridnya dekat atau jauh, seorang mursyid harus mempersiapkan diri mereka melalui Meditasi Sufi, sebagaimana para insinyur mempersiapkan roket untuk bisa naik.  Melalui Meditasi Sufi, Syekh mengajari jalan untuk melakukan meditasi terhadap Tuhan.  Sebelum kalian bisa mencapai Hadirat Ilahi, kalbu kalian harus bersama dengan Syekh dan pikiran kalian harus bersama pikiran syekh, sehingga kalian akan dipersiapkan.  Kalian tidak bisa melakukan persiapan sendiri untuk perjalanan semacam itu.

Perhatikan Isra Mi’raj Nabi (s).  Bahkan beliau (s) pun harus mempersiapkan diri.  Beliau tidak pergi secara langsung ke langit.  Pertama malaikat Israfil, Mikail dan Jibril mendatanginya di Masjid al-Aqsha.

Mereka mempersiapkan Nabi (s) untuk bermeditasi dengan Tuhannya, dan mereka tidak meninggalkannya sampai beliau (s) siap.  Malaikat Jibril membawanya ke Sidratul Muntaha.  Hingga titik itu, beliau (s) bermeditasi bersama Malaikat Jibril.  Ketika mereka mencapai maqam tersebut, kemudian Malaikat Jibril melepasnya, dengan mengatakan, “Meditasiku selesai.  Muraqabah bersamaku selesai.  Sekarang engkau telah mencapai apa yang kau minta.”  Malaikat Jibril tidak dapat melewati titik tersebut karena itu adalah batas terluar di mana setelah itu akal tidak lagi berfungsi, di luar itu tidak ada pemahaman lagi.

Mereka yang mempunyai kemampuan spiritual yang diperlukan dapat memikirkan para pewaris Nabi (s),  agar mereka dapat mempersiapkan diri mereka untuk perjalanan menuju Hadirat Ilahi.  Mereka dapat menggunakan imajinasi mereka untuk membawa mursyidnya ke dalam pikirannya, tetapi itu memerlukan kekuatan khusus.  Kadang-kadang Syekh akan muncul kepada mereka melalui mimpi.  Kadang-kadang jika seorang salik lebih maju, mereka dapat melihat Syekhnya ketika mereka dalam keadaan terjaga dan mereka dapat menemukannya.  Mursyid itu adalah jalan, wasilah dan bukannya tujuan.  Mursyid itu melayani, menolong, dan mengarahkan murid-muridnya.  Oleh sebab itu, seorang murid harus bersama mursyidnya.  Ia harus melakukan meditasi bersama mursyidnya.  Mursyidnya akan membawanya ke tujuan akhir, yaitu kepada Tuhan kita (swt).”

Al Fatiha

“A person who is asking to reach the station of meditation with their Lord must first be prepared. The master teaches his students how they must be in order to be ready to reach their Lord’s meditation. He does this through Sufi meditation. Whether his disciples are near or far, the master prepares them through Sufi meditation, just as engineers prepare a rocket for its ascent. Through Sufi meditation, the shaykh is teaching a way of making meditation to God. Before you can reach the Divine Presence, your heart must be with the shaykh and your mind must be with the shaykh’s mind, so that you will be prepared. You cannot prepare yourself, by yourself, for such a journey. 

Consider the Prophet’s Night Journey. Even he first had to prepare. He did not go directly up to the heavens. First, the archangels Israfil, Michael and Gabriel came to him in the Sacred Mosque. 

They were preparing the Prophet for meditation with his Lord Almighty, and they did not leave him until he was ready. Archangel Gabriel brought hirn to the Station of the Highest Lote Tree. Up to that point, he was in meditation with Archangel Gabriel. When they reached that station, then Archangel Gabriel, left, saying, “My meditation is finished. Muraqabah with me is finished. Now you have reached what you were asking for.” Archangel Gabriel could not pass that point because that is the boundary beyond which the mind can no longer function, beyond which there can be no understanding. 

Those who have the requisite spiritual abilities can bring to mind the inheritors of the Prophet, in order that they may prepare them for the journey to the Divine Presence. They may use their imagination to bring the spiritual master to mind, but it requires special power. Sometimes, the shaykh will appear to them through dreams. Sometimes, if the seeker is more advanced, they may look for the shaykh while they are awake and find him. The spiritual guide is a means. He is not the target. The guide is serving, helping and directing his disciple. Therefore, the disciple must be with the guide. He must make meditation with his master. His master takes him to his ultimate destination which is to our Lord Almighty.”

As-Sayyid Mawlana Syekh Nazim Al-Haqqani

© Sufilive.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s