Bagaimana As-Sayyid Mawlana Syekh Hisyam Kabbani Mencium Ambang Pintu Nabi (s)

1977427_628825900505100_1879118888_n

 

“Suatu hari saya sedang berada di Jeddah dan saya memutuskan untuk pergi ke Madinah, karena setiap Kamis dan Jumat saya biasa pergi ke Madinat al-Munawwarah untuk salat di sana ketika dulu saya tinggal di sana.  Jadi, pada suatu hari ketika saya hendak pergi, saya menerima panggilan telepon di rumah dari Syekh saya yang berada di Siprus dan banyak di antara kalian yang mengenalnya, beliau adalah Mawlana Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani.  Beliau berkata, “Kau mau ke mana?”  Saya jawab, “Jika diizinkan saya akan pergi mengunjungi Nabi (s).”  Beliau berkata, “Ciumlah ambang pintu beliau (s) untukku.”  Dan ketika seseorang mengatakan seperti itu kepada kalian, apa yang akan kalian katakan, khususnya Syekh kalian.  Tetapi pikiran kalian mulai berkata, “Bagaimana aku akan melakukannya dengan semua rintangan dan penjaga ini?  Itu adalah mustahil.”

Jadi pada saat itu saya pergi dan saya menyetir dengan kecepatan 150, 160 km per jam atau sekitar 120 mil per jam agar cepat sampai.  Karena beliau berkata, “Pergilah dan ciumlah ambang pintu Nabi (s).”  Pasti ada jalan pembuka.  Jadi dalam waktu singkat saya tiba di sana dengan selamat atas berkah Nabi (s).  Dan saya harus mandi dan pergi ke tempat suci di mana Allah menjadikannya sebagai suatu bagian dari Surga, yaitu makam suci Nabi (s).  Kesalahan yang kita semua lakukan ketika pergi ke Muwajaha, tempat suci dari Surga, saya tidak ingin mengatakannya sebagai makam, kalbu saya merasa berat mengatakannya sebagai “makam”; itu adalah qata`n min al-jannah, satu bagian dari Surga.  Jadi ketika kalian melewati sebuah Surga di dunia ini, apa yang akan kalian lakukan?  Kalian akan tinggal sedapat mungkin, kalian tidak ingin pergi dari sana.

Kalian harus mengambil kesempatan dan apapun yang ada di dalam kalbu saya, saya ambil kesempatan itu, dan biasanya banyak penjaga yang akan datang dan memerintahkan kalian agar pergi.  Tetapi biasanya saya tidak berdiri di bagian awal, saya berdiri di sebelah dinding.  Dan pada malam itu ada banyak penjaga dan salah seorang di antara mereka berjanggut merah, ia adalah kepalanya.  Ia tidak mendekati saya dan tidak membiarkan seorang penjaga pun mendekati saya.  Itu adalah aneh.  Karena kalian tidak bisa berdiri satu jam di sana atau satu setengah jam.  Mereka akan datang dan menyuruh pergi, bahkan ketika baru lima menit di sana.

Jadi saya menyelesaikannya dan saya pergi untuk mencium pilar, pilar terbesar, di bagian belakang agar tidak ada orang yang melihat kalian.  Kemudian salah satu penjaga yang besar, kepala penjaga mendatangi saya dan saya berkata sendiri, “Selesai sekarang.”  Ia mendatangi saya dan berkata, “Kau ingin mencium ambang pintu Nabi (s)?”  Saya berkata, “Ya.”  Ia membawa saya ke pintu Nabi (s) sehingga saya dapat mencium ambang pintunya dan segala sesuatunya lenyap, tidak ada penjaga dan saya tidak melihat apa-apa, kecuali ambang pintu Nabi (s).  Dan saya mencium ambang pintu itu, lalu saya berdiri dan kemudian segala sesuatunya kembali berjalan normal dan kemudian ia mendatangi saya dan berkata, “Berikan salamku kepada Syekh Nazim.”  Ia tidak pernah mengenal Syekh Nazim dan Syekh Nazim tidak pernah memanggilnya dan ia tidak pernah memanggil Syekh Nazim.

Saya lalu pergi ke sebuah madrasah yang bernama Madrasat asy-Syuunah, Sekolah asy-Syuunah di mana Mawlana Syekh Nazim biasanya pergi ke sana.  Dan saya mendengar ada langkah kaki yang berlari di belakang saya.  Dan saya berkata, “Oh mereka datang” dan ketika saya berbalik, salah seorang penjaga datang dan ia memegang  sebuah al-Qur’an dengan hiasan yang sangat indah.  Dan ia menyerahkannya kepada saya dan ia berkata, “Oh Hisyam.  Ini adalah sebuah hadiah dari ayahku untuk Syekh Nazim.”  Saya berterima kasih kepadanya dan tidak mengatakan apa-apa atau meminta apa-apa darinya.  Itu adalah tark al-adab – di luar adab—untuk bertanya.  Tarekat bukan bertanya sesuatu, “asma`uu wa awuu – dengar dan lakukan apa yang kalian dengar.”

As-Sayyid Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

[Gambar di atas adalah bagian dalam dari Makam suci yang penuh berkah dari Sayyidina Muhammad (s)]

© Sufilive.com

 

How Sayyid Mawlana Shaykh Hisham Kabbani Kissed the threshold of the Prophet (s) 

“One day I was in Jeddah and I decide to visit Madina, because every Friday and Thursday I used to go to Madinat al-Munawwara to pray there as I was most of the time living there. So one day I was going and to the house I received a call form my Shaykh who is Cyprus and many of you know him, he is Mawlana Shaykh Muhammad Nazim al-Haqqani. He said, “Where are you going?” I replied- “if there is permission I am going to visit the Prophet (s).” He said, “Kiss his threshold for me.” And when someone says something like that to you what do you say, “Especially your shaykh. But your mind begins to think, “How am I going to do that with all these barriers and guards? It is impossible.” 

So that time I went and that time I was driving 150, 160 km./hour about 120 miles per hour in order to reach quickly. Because he said, “go and kiss the threshold of the Prophet . There must be an opening. So I reached there safely and quickly by baraka of the Prophet (s) . And I have to take a shower and go that holy place that Allah made piece of Paradise. The holy grave of the Prophet . The mistake we all make when we go to the Muwajaha, the holy place of Paradise I don’t like to say grave it is heavy on my heart to say “grave”; it is qata`n min al-jannah a piece of Paradise. So when you pass by a Paradise in this world what do you do? You stay as long as you can, you don’t want to go out. 

You have to take opportunity and whatever in my heart I was taking opportunity usually many guard come and tell you to move. But usually I don’t stand by the beginning I stand by the wall. And that night however many guards and one of them with red beard and he is head of these guards. And he didn’t approach me and didn’t let one guard to come to me. It is strange. Because you cannot stand one hour there or one and a half hours. They will come and say move even after five minutes. 

So I finished and I went to kiss the pillar the big pillar which is in back as no one will see you. Then one of the big guards the head of them, came to me and I said to myself, it is finished now. He came to me and said, “you want to kiss the threshold of the Prophet.” I said “yes.” He took me to the door of the Prophet and I was able to kiss the threshold of the Prophet (s) and everything disappeared no guards and I was seeing nothing but the threshold of the Prophet (s). And I kissed the threshold, and then I stood up and then everything came back as normal and then he came to me and said, “give my salaams to Shaykh Nazim” He never knew Shaykh Nazim and Shaykh Nazim never called him and he never called Shaykh Nazim. 

I left and went to a school that is called Madrasat ash-Shoonah, ash-Shoonah School that Mawlana Shaykh Nazim usually goes there. And I heard footsteps running behind me. And I said, “O they are coming” and I turned and one of the guards came and he was holding a very beautiful decorated Qur’an. And he gave it to me and said, “O Hisham. This is a gift from my father for Shaykh Nazim.” I thanked him and didn’t say anything or ask him anything. That is tark al-adab – beyond good conduct – to ask a question. Tariqah is not to ask anything, “asma`oo wa awoo – listen and act on what you heard.” 

Sayyid Mawlana Shaykh Hisham Kabbani 

PICTURE ABOVE IS OF INSIDE THE BLESSED SHRINE OF SAYIDINA MUHAMMAD (S) 

© Sufilive.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s