Rahasia dari Khalwat Grandsyekh di Madinah

10354613_721601151260213_1494494169206541118_n
Sebagaimana yang diceritakan oleh Syekh Hisyam Kabbanni dari Mawlana Syekh Nazim Adil an-Naqsybandi

Grandsyekh, semoga Allah memberkati jiwanya, selalu merupakan pancuran ilmu. Beliau berkata bahwa di dalam khalwatnya beliau pernah berdoa, tetapi beliau tidak pernah mengungkapkan doa itu kepada orang banyak. Ini berasal dari rahasia yang Grandsyekh perintahkan kepada Mawlana Syekh Nazim (q) untuk dibukakan pada tahun 1969 ketika kami menunaikan ibadah haji bersama Mawlana Syekh. Grandsyekh meminta beliau untuk menahan saya dan saudara saya di kamarnya, di mana beliau pernah melakukan khalwat selama satu tahun di Madinah. Beliau memberikan semua rahasia ini kepada kami dan bagaimana kalian dapat menggunakannya, tetapi tidak menggunakannya dengan tanpa izin mereka. Jadi, kami duduk di sana setiap hari bersama Mawlana Syekh Nazim (q) dan pergi keluar untuk salat, lalu kembali lagi, dan beliau mendiktekan kepada kami semua rahasia yang beragam ini.

Beliau mengatakan bahwa salah satunya, yang mungkin sebagian orang akan merasa keberatan karena mereka tidak dapat memahaminya, tetapi Mawlana Syekh Nazim (q) berkata, “Grandsyekh memberiku makanannya untuk dimakan; aku sendiri memakan makananku dan beliau memberi ini, yaitu semangkuk sup lentil, dan beliau memberikannya lewat bawah pintu, karena beliau tidak makan, dan aku melakukan khalawat selama enam bulan bersama beliau sementara Grandsyekh meneruskannya selama enam bulan lagi.”

Kemudian beliau berkata bahwa pada suatu hari beliau mendengar Grandsyekh berbicara dengan bahasa Arab, meskipun beliau tidak fasih berbahasa Arab, dan hanya sedikit kata-kata yang beliau ketahui. Mawlana Syekh Nazim berkata,

“Aku melihat beliau mengangkat kedua tangannya dan berdoa dalam bahasa Arab. Tidak ada satu pun kalimat yang beliau ulangi, setiap kalimat dalam doanya berbeda, dan semua yang beliau baca adalah kalimat-kalimat munajat yang tidak dibaca pada doa kedua atau ketiga, dan beliau gemetar. Beliau membukakan sebuah penglihatan (ru’yah) bagiku dan aku melihat beliau berada di bawah Arasy Allah dengan doa itu, sebuah doa yang ditujukan untuk seluruh umat. Salah satu fadilah dari doa tersebut adalah agar Allah (swt) menerima permohonannya. Beliau berkata, ‘Ya Rabbi, setiap orang yang datang dan duduk di dalam shuhba-ku (asosiasi, majelis bersama beliau), aku ingin agar mereka senantiasa bersamaku di dunia dan akhirat dan aku ingin agar maqam mereka diangkat hingga ke maqam yang sama denganku.’ Aku takut bahwa beliau akan melihatku di sana, karena kami berada di kamar yang sama. Sebelumnya tidak pernah murid dan Syekh mereka berada di kamar yang sama untuk berkhalwat, karena murid tidak dapat mengemban apa yang dibaca atau dilakukan oleh syekhnya! Tetapi beliau mengizinkan aku untuk berada di kamar yang sama selama enam bulan dalam khalwat tersebut dan ketika waktuku selesai, aku mendengar ada seseorang yang menangsi di luar pintu. Aku melihat ke sana tetapi tidak ada orang di sana, tetapi suara tangisannya masih ada. Kemudian Grandsyekh melihatku dan berkata, ‘Nazim Effendi, mengapa engkau khawatir dengan orang yang menangis? Biarkan ia masuk ke Neraka, karena itu adalah Iblis! Aku tidak dapat membelenggu mereka, mereka berada di luar kendaliku, di luar otoritasku.'”

Seperti inilah tipe Syekh yang kalian miliki, dan beliau masih bersama kita di dunia dan akhirat! Namun demikian kita tidak dapat mengerti, pikiran kita tidak dapat menyatukannya.

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
18 September 2014 Bury, UK
Courtesy of Sufilive.com

 

Secrets of Grandshaykh’s Madinah Khalwah
As Told to Shaykh Hisham Kabbani by Mawlana Shaykh Nazim Adil an-Naqshbandi

Grandshaykh, may Allah bless his soul, was always a fountain of knowledge. He said in his seclusion he was making du`a, but he didn’t say publicly what the du`a was. These are from the secrets that Grandshaykh (q) ordered Mawlana Shaykh Nazim (q) to open in 1969 when we went on Hajj with Mawlana Shaykh (q). Grandshaykh (q) asked him to keep me and my brother Shaykh Adnan in his private room with him, where he had observed seclusion for one year in Madinah. He gave us all these secrets and how you can use them, but not to use them without their permission. So we sat there every day with Mawlana Shaykh Nazim (q) and went out to pray and came back, and he dictated all these different secrets to us.

He said one of them, to which perhaps some people will object because they cannot understand it, but Mawlana Shaykh Nazim (q) said, “Grandshaykh was giving me his food to eat; I ate my food and he gave me his, which was one bowl of lentil soup, and he passed it under the door because he did not eat, and I made a six-month seclusion with him and Grandshaykh continued the seclusion for another six months.”

Then he said one day he heard Grandshaykh (q) speaking in Arabic, although he did not know except a few words of Arabic. Mawlana Shaykh Nazim said:

“I saw he was raising his hands and making du`a in Arabic. Not one sentence was repeated, every sentence of his du`a was different, and all that he recited were sentences of supplication that were not recited in the second du`a or the third, and he was shaking. He opened a vision for me and I saw he was under the Throne of Allah with that du`a, which was for the benefit of the Ummah. One of those benefits is for Allah (swt) to accept from him what he is going to ask. He said, ‘Ya Rabbi, anyone who comes and sits in my association, I want him to be with me in dunya and Akhirah raised up to my level.’ I was scared that he would see me there, because we were in the same room. Never a mureed and their shaykh are in the same room for khalwah, because the mureed cannot carry what his shaykh is reciting or doing! But he allowed me to be in the same room for six months during that khalwah and when my time was finished, I heard someone crying outside the door. I looked and there was no one there, but the voice was wailing, then Grandshaykh looked at me and said, ‘Nazim Effendi, why are you worried about the one crying? Let him go to Hell, that was Iblees! I cannot chain them, they are out of my hand, out of my authority.’”

This is the type of shaykh you had and he is still with us in dunya and Akhirah! However, we cannot understand, our minds cannot put it together.

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
18 September 2014 Bury, UK
Courtesy of Sufilive.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s