Segala Sesuatu Mempunyai Adab

6655f6de-f602-4c9d-82bf-b2a1e4ae7f68

Dan segala sesuatu harus mempunyai adab, disiplin; dan disiplin tidaklah mudah. Kemarin kita berbicara mengenai adab dan awliyaullah dan saya menceritakan sebuah kisah yang ingin saya ceritakan kembali. Syah Bahauddin Naqsyband (q) mempunyai seorang murid yang termasuk muqaddimiin, salah satu yang tertinggi, muqaddam, seorang murid senior, yang selalu pergi bersamanya, mendampinginya, seorang muraafiq. Pada suatu hari mereka pergi menelusuri lorong-lorong di Bukhara, tempat Syah Bahauddin Naqsyband (q) tinggal.

Ketika mereka sedang berjalan, mereka bertemu dengan Syekh lainnya yang bernama Muhammad al-Hallaj, tetapi bukannya Hallaj yang kita kenal, melainkan Hallaj lain yang terkenal di masanya. Ia mempunyai seorang murid, kalian tidak bisa menghitung berapa banyak muridnya, karena begitu banyaknya; tetapi masalahnya adalah bahwa ia munkar terhadap Syah Bahauddin Naqsyband (q), ia menentangnya dan tidak menerimanya karena ia tidak dapat memahaminya. Seperti orang-orang di zaman sekarang, ketika kalian berbicara dengan mereka mengenai tasawuf secara mendalam, mereka tidak mengerti. Mereka menginginkan sesuatu yang mudah dimengerti. Jadi Syekh Muhammad al-Hallaj datang dan ketika mereka berpapasan di lorong yang sama, mereka harus melalui tempat yang sama dan Syah Bahauddin Naqsyband (q) melangkah bersamanya sebanyak tiga langkah, meskipun ia (Muhammad al-Hallaj) bertentangan dengannya, beliau tidak membuang muka darinya, tetapi beliau memberi salam dan berjalan bersamanya, di sini dikatakan khutuwaat, mungkin tiga atau dua puluh atau lima puluh atau seratus langkah, tetapi beliau mendampinginya.

Salah satu murid senior dari Syah Bahauddin Naqsyband (q), Mawlana Sayfuddin menyaksikan hal itu dan terlintas dalam pikirannya bahwa ia harus memberi penghormatan lebih baik lagi kepada orang itu, Syekh Muhammad al-Hallaj. Pikirnya, “Syekhku memberi penghormatan kepadanya, tetapi aku pikir ia patut dihormati lebih baik lagi.” Jadi ia meninggalkan syekhnya dan tidak lagi berjalan bersamanya, tetapi kemudian bergabung dengan syekh itu untuk menunjukkan, “Kami adalah orang baik, kelompok Syah Bahauddin Naqsyband (q) adalah kelompok yang baik, dan aku melihat apa yang dilakukan oleh Syah Bahauddin Naqsyband (q) tidak cukup, sehingga aku akan berjalan bersamamu lebih lama lagi.” Hal itu disebabkan oleh nafs-nya, egonya.

Jadi apakah kalian ingin mengikuti ego kalian, atau kehendak syekh kalian? Kalian tidak bisa mengikuti ego kalian, kalian harus mengikuti kehendak syekh kalian! Katakanlah misalnya, Syah Bahauddin Naqsyband (q) mengambil cangkir ini dan meletakkannya di sini (di pinggir meja). Sebagai murid, kalian tidak mempunyai hak untuk mengambil cangkir itu dan meletakkannya di sana. Di dalam pikiran kalian, “Cangkir itu ada di sini, ia bisa jatuh, aku harus memindahkannya,” tetapi di dalam pikiran Syekh cangkir itu akan jatuh dan itu adalah urusannya, bukan urusan kalian, dan bukan adab untuk ikut campur dalam urusan syekh.

Jadi Syah Bahauddin Naqsyband (q) berkata, “Aku berjalan bersama Muhammad al-Hallaj selama itu sesuai dengan apa yang tertulis dalam Loh Mahfuz, mengapa engkau ikut campur? Kau melebihinya.” Syah Bahauddin Naqsyband (q) tidak rida dengan apa yang dilakukan oleh Sayfuddin, dan ketika Sayfuddin kembali, beliau berkata kepadanya, “Apa yang kau lakukan hari ini adalah tark al-adab, kau tidak menunjukkan disiplin dan kau menentang kehendakku dan itu benar-benar tanpa alasan. Kau telah… karena apa yang kau lakukan, balaa turun ke Bukhara.”

“Allahu Akbar! Itu tidak mudah; ketika awliyaullah menjadi kesal, kalian harus pergi, jangan duduk terlalu lama bersamanya. Orang-orang yang duduk terlalu lama dengannya, mereka berpikir bahwa mereka sudah seperti sahabatnya, sahabat yang akrab. Mereka tidak mengetahui bahwa para syekh mempunyai ahwaal, keadaan ekstase. Fa maata Mawlana Sayfuddin ba`d tsalatata ayyaam, Mawlana Sayfuddin, orang yang berpikir bahwa ia patut mendampingi Muhammad al-Hallaj lebih lama lagi, kemudian meninggal dunia tiga hari kemudian!”

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
http://sufilive.com/The-Subtleties-of-Good-Manners-5418.html #adab

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s