Kekuatan Sedekah

WhatsApp Image 2017-06-14 at 12.47.53 PM

Abū Hurayrah (raḍiy-Allāhu ‘anhu) meriwayatkan bahwa Rasul Allāh ﷺ bersabda,

Seorang pria berkata, “Aku akan menemukan seseorang yang memerlukan dan akan memberinya sedekah.”

Orang itu lalu pergi untuk memberikan sedekah kepada orang yang memerlukan. Ia pergi dari rumahnya dan mendapati seseorang, rupanya ia adalah seorang pencuri, namun ia tetap memberikan sejumlah uang kepadanya. Lihatlah, ia keluar dari rumahnya dan memberikan donasi kepada seorang pencuri. Niatnya ketika pergi adalah untuk memberikan sedekah kepada orang yang pantas menerima dan memerlukannya. Lalu ia memberikannya kepada seorang pencuri. Apakah pencuri itu memerlukannya? Tidak, ia tidak memerlukannya.

Jadi ia berdoa, Allāhumma laka ‘l-ħamd alā sāriq,
“Ya Allāh! Segala pujian bagi-Mu. Aku telah memberi sedekah kepada seorang pencuri.”

Itu artinya, “Itu bukanlah kemauanku, tetapi itu adalah atas Kehendak-Mu, atas Irādah-Mu, aku memberikan sedekah kepada pencuri itu.”
Kemudian setelah beberapa hari, ia berkata lagi, “Aku akan memberi dari uang yang halal untuk sedekah.”

Jadi ia pergi dari rumahnya dengan uang donasinya dan memberikannya kepada seorang pelacur; barangkali ia berpikir bahwa pelacur itu pantas menerimanya. Ia memberikan uang itu kepadanya dan seluruh kota mulai membicarakannya, pertama ia memberi kepada seorang pencuri, dan sekarang kepada seorang pelacur, dan orang-orang mengatakan betapa buruknya ia.

Dan orang itu berdoa lagi, “Allāhumma laka ‘l-ħamdu `alā az-zānīyya. “Ya Allāh! Segala puji bagi-Mu. Aku telah memberikan sedekah kepada seorang pelacur.” Itu artinya, “Aku tidak menginginkannya, tetapi Kehendak-Mu yang membuatku memberikan sedekah itu ke tangan seorang pelacur.”

Kemudian ia berkata, “Sekarang aku akan memberikan uang ke tangan orang yang tepat dan insyā’Allāh aku tidak akan membuat kesalahan.”

Kemudian ia pergi mencari dan mencari, sampai ia menemukan seseorang yang ia pikir adalah orang yang miskin, lalu ia memberikan uang itu, dan itu adalah uang yang banyak.

Jika uangnya tidak banyak, orang itu tidak akan mau menerimanya. Misalnya, seorang pelacur tidak akan mau mengambil uang 10 sen, ia akan melemparkannya ke muka kalian. Jadi orang-orang di kota itu mulai lagi membicarakannya, bahwa ia memberikan uangnya kepada seorang pencuri, seorang pelacur dan kepada orang kaya.

Dan ia berdoa, “Allāhumma fa-laka ‘l-ħamdu alā sāriqun wa ala zānīyyatin wa alā ghanīyy,

“Ya Allāh! Segala puji bagi-Mu (yang telah menolongku) untuk memberikan sedekah ini kepada seorang pencuri, pelacur dan orang yang kaya.”

Ia bersyukur kepada Allāh bahwa karena Kehendak-Nya lah ia memberi sedekahnya kepada mereka. Fa ūtīyya, jadi itu artinya apakah ia mendengar atau melihat suatu penglihatan atau suara di mana malaikat berkata, “Sedekahmu kepada seorang pencuri bisa menjadi asbab bagi Allāh untuk menghentikannya sebagai pencuri dan menjadi orang yang baik. Itu membuatnya merenungi dirinya dan kemudian ia berhenti mencuri dari orang lain.”

Itu artinya, “Dengan sedekahmu kepada seorang pencuri, Allāh akan mengubah orang jahat itu menjadi orang yang baik karena uang baik yang kau berikan kepadanya. Sedangkan untuk pelacur itu, Allāh akan membuatnya menghentikan semua perbuatan buruknya karena sedekah yang kau berikan kepadanya.

Itu artinya, sedekahnya diterima oleh Allāh dan Nabi-Nya ﷺ. Sedangkan untuk orang kaya, memberinya sedekah membuatnya belajar dari orang itu bahwa seseorang yang kekayaannya ada di bawahnya mau memberi sedekah, sementara ia tidak, dan sedekahnya itu memberi inspirasi baginya untuk menemukan orang miskin lainnya dan memberinya sedekah.

Hadits ini disebutkan dalam Bukhārī sehingga mereka tidak dapat mengatakannya sebagai hadits yang lemah, tetapi ini berasal dari Īmām Bukhārī, hadits ini menunjukkan bahwa jika niat kalian baik, dan niat kalian adalah ingin memberikan sedekah kepada seseorang yang sangat memerlukan, bukannya memerlukan uang untuk dibelanjakan, tetapi memerlukan sedekah untuk menyelematkannya dari situasi buruk yang dialaminya, agar ia merenung bahwa ia adalah orang yang buruk, dan tidak pantas menerimanya, itu akan memberi pelajaran agar ia menghentikan perbuatan buruknya. Sama halnya, itu juga akan menjadikan asbab bagi orang kaya untuk mulai memberi sedekah bagi orang yang layak menerimanya.

Jadi, tidak semua seperti apa yang kita baca secara harfiah, tetapi ada haqiqat yang tersembunyi di balik maknanya, ada hikmah yang tersembunyi. Jika kita menerima hadits ini secara harfiah, Nabi (saw) menjelaskan apa yang dilakukan orang itu kepada pencuri, pelacur dan orang kaya, dan kita melihatnya sedekah itu mengubah mereka menjadi orang baik. Tidak semua harus kalian baca secara harfiah karena ada makna di belakangnya, dan Allāh ingin agar kita memetik hikmahnya.

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia

 

The power of Charity

Abū Hurayrah (raḍiy-Allāhu ‘anhu) related that the Messenger of Allāh ﷺ said:

A man said, “I am going to find someone in need and give him charity.”

That man went out to give his charity to someone in need. He went out of his house and he saw someone, a thief, and put the money in his hand. Look, he went out from his house and put the donation in the hand of a thief. His intention when he went out was to put šadaqah in the hand of someone who deserves it and needs it. Then he puts it in the hand of a thief. Does the thief need it? No he does not.

So he said, Allāhumma laka ‘l-ħamd alā sāriq,
“O Allāh! Praise be to You. I have given charity to a thief.”

It means, “It is not me, but it is Your Will, Irāda, that made me to put šadaqah in the hand of that thief.”
Then he said a second time after many days, “I am going to give from the ħalāl money I made a šadaqah.”

So he went out with his donation and put it in the hand of a prostitute; it might be he thought she deserves it. He gave it to her and the whole city began to speak about before he gave to a thief and now he gave to a prostitute, and they said how bad is that man.

And he said, Allāhumma laka ‘l-ħamdu alā az-zānīyya. “O Allāh! Praise be to You. I have given šadaqah to a prostitute.” It means, “I didn’t want, but Your Will made me to put that charity in the hand of a prostitute.”

Then he said, “Now I am going to put the money in the hand. of someone who deserves it and inshā’Allāh I will not make a mistake.”

And he went out looking and looking and found a person he thought is poor and he gave him money and it was a large amount of money.

If it had not been a lot, he would not have accepted. For example, a prostitute will not take 10 cents, she will throw it in your face. So the people of the city began to speak about him: he is giving his money to a thief, to a prostitute and to a rich person.

And he said, Allāhumma fa-laka ‘l-ħamdu alā sāriqun wa ala zānīyyatin wa alā ghanīyy,
“O Allāh! Praise be to You (for helping me) give charity
to a thief, a prostitute and a rich man.”

He thanked Allāh that it was His Will that he gave to these. Fa ūtīyya, so it means either he heard or saw a vision or heard an angel saying, “your šadaqah to a thief might be the cause for Allāh to drop his being a thief and become a good person. It might be it makes him look bad to himself, and therefore, he stops stealing from people.”

That means “With your šadaqah to a thief, Allāh will turn that bad person to a good person due to the good money you put in his hand. And as for the prostitute, Allāh might make her drop all her bad work due to the šadaqah you gave her.

That means his šadaqah was accepted by Allāh ¹ and by the Prophet ﷺ. As for the rich man, giving him charity might cause him to take an example that a poor man is giving him šadaqah while he doesn’t give šadaqah to anyone, and that might inspire him to find the poor and give him šadaqah.

This ħadīth is mentioned by none other than Bukhārī and so they cannot say it is weak, but from Īmām Bukhārī, this ħadīth shows that if your intention is good and your intention is to give šadaqah to someone in great need, not in need of money to spend, but in need of šadaqah to save him from the bad situation he is in, to know he is bad and while you don’t deserve it, it gives you a moral lesson to stop doing the wrong you are doing. Similarly, it might be the cause for the rich person to begin to giving šadaqah to those who deserve it.

So not everything is just what we read literally, but the reality is behind the meanings, the secret of the wisdom. If we take this ħadīth literally, the Prophet ÿ explained what the man did to give a thief, a prostitute and to a rich person, and we see it turned these people back to a good life. Not everything you have to read literally as there are meanings behind them. Allāh wants us to have wisdom.

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s