Sebarkan Salam, Berikan Makan, dan Salat di Malam Hari

19059894_10154688419690886_7391973979335561895_n

Nabi (saw) bersabda, Afsyuu ‘s-salaam, “Sebarkan salam, ucapkan, ‘As salaamu `alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh’.”” Afsyuu ‘s-salaam artinya membangun hubungan dengan satu sama lain dengan mengucapkan, “As-salaamu `alaykum,” yang merupakan kedamaian dari Allah (swt) pada kalian.

 
يا أيها الناس، أفشوا السلام، وأطعموا الطعام، وصلوا بالليل والناس نيام، تدخلوا الجنة بسلام
Sebarkan salaam, berikan makanan, dan salat di malam hari ketika orang-orang sedang tidur, maka engkau akan masuk Surga dengan selamat. (Tirmidzi)
 
Afsyuu ‘s-salaam adalah untuk mengingatkan kalian bahwa ke mana pun kalian pergi, ada seseorang yang mungkin kalian jumpai di jalan, yang merupakan Muslim, atau Mu’min, seseorang yang mungkin dibimbing Allah, jadi jagalah hubungan baik dengan semua orang.
 
Sayangnya, orang-orang berselisih satu sama lain memperebutkan kursi jabatan. Itulah sebabnya kita melihat banyak masalah di seluruh dunia yang disebabkan oleh para politikus, tetapi kita tidak berurusan dengan politikus, kita berurusan dengan individu-individu, para akar rumput, agar mereka mencintai kita dan kita mencintai mereka. Risalah Islam adalah untuk semua orang, ia tidak dibatasi, sebagaimana Nabi (saw) datang untuk menyebarkan Risalah Islam bagi seluruh umat manusia, dan insya Allah, kita termasuk orang-orang yang memenuhi kriteria:
 
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا
 
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (Surat al-Hasyr, 59:7)
 

Prophet (s) said, Afshoo ‘s-salaam, “Spread salaam, say, ‘As salaamu `alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh’.”” Afshoo ‘s-salaam means to make relationships with each other by saying “As-salaamu `alaykum,” which is peace from Allah (swt) on you.

يا أيها الناس، أفشوا السلام، وأطعموا الطعام، وصلوا بالليل والناس نيام، تدخلوا الجنة بسلام

Spread (greet with) the salaam, give food, and pray at night while people are asleep, then you will enter Paradise peacefully. (Tirmidhi)

Afshoo ‘s-salaam is to remind you that wherever you go, there is someone you might see on the street who is a Muslim, a mu’min, someone whom Allah might guide, so keep good relationships with everyone. Unfortunately, people are fighting with each other over who will sit on the chair. That’s why we see problems around the world from politicians, but we are not concerned with politicians, we are concerned with individuals, the grassroots, in order that they will love us and we love them. The message of Islam is for everyone, it is not restricted as Prophet (s) came to spread the Message of Islam for all humanity, and inshaa-Allah, we are those who fulfill:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

Leave what Prophet forbade and take what he ordered. (Surat al-Hashr, 59:7)

Shaykh Hisham Kabbani

Kekuatan Sedekah

WhatsApp Image 2017-06-14 at 12.47.53 PM

Abū Hurayrah (raḍiy-Allāhu ‘anhu) meriwayatkan bahwa Rasul Allāh ﷺ bersabda,

Seorang pria berkata, “Aku akan menemukan seseorang yang memerlukan dan akan memberinya sedekah.”

Orang itu lalu pergi untuk memberikan sedekah kepada orang yang memerlukan. Ia pergi dari rumahnya dan mendapati seseorang, rupanya ia adalah seorang pencuri, namun ia tetap memberikan sejumlah uang kepadanya. Lihatlah, ia keluar dari rumahnya dan memberikan donasi kepada seorang pencuri. Niatnya ketika pergi adalah untuk memberikan sedekah kepada orang yang pantas menerima dan memerlukannya. Lalu ia memberikannya kepada seorang pencuri. Apakah pencuri itu memerlukannya? Tidak, ia tidak memerlukannya.

Jadi ia berdoa, Allāhumma laka ‘l-ħamd alā sāriq,
“Ya Allāh! Segala pujian bagi-Mu. Aku telah memberi sedekah kepada seorang pencuri.”

Itu artinya, “Itu bukanlah kemauanku, tetapi itu adalah atas Kehendak-Mu, atas Irādah-Mu, aku memberikan sedekah kepada pencuri itu.”
Kemudian setelah beberapa hari, ia berkata lagi, “Aku akan memberi dari uang yang halal untuk sedekah.”

Jadi ia pergi dari rumahnya dengan uang donasinya dan memberikannya kepada seorang pelacur; barangkali ia berpikir bahwa pelacur itu pantas menerimanya. Ia memberikan uang itu kepadanya dan seluruh kota mulai membicarakannya, pertama ia memberi kepada seorang pencuri, dan sekarang kepada seorang pelacur, dan orang-orang mengatakan betapa buruknya ia.

Dan orang itu berdoa lagi, “Allāhumma laka ‘l-ħamdu `alā az-zānīyya. “Ya Allāh! Segala puji bagi-Mu. Aku telah memberikan sedekah kepada seorang pelacur.” Itu artinya, “Aku tidak menginginkannya, tetapi Kehendak-Mu yang membuatku memberikan sedekah itu ke tangan seorang pelacur.”

Kemudian ia berkata, “Sekarang aku akan memberikan uang ke tangan orang yang tepat dan insyā’Allāh aku tidak akan membuat kesalahan.”

Kemudian ia pergi mencari dan mencari, sampai ia menemukan seseorang yang ia pikir adalah orang yang miskin, lalu ia memberikan uang itu, dan itu adalah uang yang banyak.

Jika uangnya tidak banyak, orang itu tidak akan mau menerimanya. Misalnya, seorang pelacur tidak akan mau mengambil uang 10 sen, ia akan melemparkannya ke muka kalian. Jadi orang-orang di kota itu mulai lagi membicarakannya, bahwa ia memberikan uangnya kepada seorang pencuri, seorang pelacur dan kepada orang kaya.

Dan ia berdoa, “Allāhumma fa-laka ‘l-ħamdu alā sāriqun wa ala zānīyyatin wa alā ghanīyy,

“Ya Allāh! Segala puji bagi-Mu (yang telah menolongku) untuk memberikan sedekah ini kepada seorang pencuri, pelacur dan orang yang kaya.”

Ia bersyukur kepada Allāh bahwa karena Kehendak-Nya lah ia memberi sedekahnya kepada mereka. Fa ūtīyya, jadi itu artinya apakah ia mendengar atau melihat suatu penglihatan atau suara di mana malaikat berkata, “Sedekahmu kepada seorang pencuri bisa menjadi asbab bagi Allāh untuk menghentikannya sebagai pencuri dan menjadi orang yang baik. Itu membuatnya merenungi dirinya dan kemudian ia berhenti mencuri dari orang lain.”

Itu artinya, “Dengan sedekahmu kepada seorang pencuri, Allāh akan mengubah orang jahat itu menjadi orang yang baik karena uang baik yang kau berikan kepadanya. Sedangkan untuk pelacur itu, Allāh akan membuatnya menghentikan semua perbuatan buruknya karena sedekah yang kau berikan kepadanya.

Itu artinya, sedekahnya diterima oleh Allāh dan Nabi-Nya ﷺ. Sedangkan untuk orang kaya, memberinya sedekah membuatnya belajar dari orang itu bahwa seseorang yang kekayaannya ada di bawahnya mau memberi sedekah, sementara ia tidak, dan sedekahnya itu memberi inspirasi baginya untuk menemukan orang miskin lainnya dan memberinya sedekah.

Hadits ini disebutkan dalam Bukhārī sehingga mereka tidak dapat mengatakannya sebagai hadits yang lemah, tetapi ini berasal dari Īmām Bukhārī, hadits ini menunjukkan bahwa jika niat kalian baik, dan niat kalian adalah ingin memberikan sedekah kepada seseorang yang sangat memerlukan, bukannya memerlukan uang untuk dibelanjakan, tetapi memerlukan sedekah untuk menyelematkannya dari situasi buruk yang dialaminya, agar ia merenung bahwa ia adalah orang yang buruk, dan tidak pantas menerimanya, itu akan memberi pelajaran agar ia menghentikan perbuatan buruknya. Sama halnya, itu juga akan menjadikan asbab bagi orang kaya untuk mulai memberi sedekah bagi orang yang layak menerimanya.

Jadi, tidak semua seperti apa yang kita baca secara harfiah, tetapi ada haqiqat yang tersembunyi di balik maknanya, ada hikmah yang tersembunyi. Jika kita menerima hadits ini secara harfiah, Nabi (saw) menjelaskan apa yang dilakukan orang itu kepada pencuri, pelacur dan orang kaya, dan kita melihatnya sedekah itu mengubah mereka menjadi orang baik. Tidak semua harus kalian baca secara harfiah karena ada makna di belakangnya, dan Allāh ingin agar kita memetik hikmahnya.

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia

 

The power of Charity

Abū Hurayrah (raḍiy-Allāhu ‘anhu) related that the Messenger of Allāh ﷺ said:

A man said, “I am going to find someone in need and give him charity.”

That man went out to give his charity to someone in need. He went out of his house and he saw someone, a thief, and put the money in his hand. Look, he went out from his house and put the donation in the hand of a thief. His intention when he went out was to put šadaqah in the hand of someone who deserves it and needs it. Then he puts it in the hand of a thief. Does the thief need it? No he does not.

So he said, Allāhumma laka ‘l-ħamd alā sāriq,
“O Allāh! Praise be to You. I have given charity to a thief.”

It means, “It is not me, but it is Your Will, Irāda, that made me to put šadaqah in the hand of that thief.”
Then he said a second time after many days, “I am going to give from the ħalāl money I made a šadaqah.”

So he went out with his donation and put it in the hand of a prostitute; it might be he thought she deserves it. He gave it to her and the whole city began to speak about before he gave to a thief and now he gave to a prostitute, and they said how bad is that man.

And he said, Allāhumma laka ‘l-ħamdu alā az-zānīyya. “O Allāh! Praise be to You. I have given šadaqah to a prostitute.” It means, “I didn’t want, but Your Will made me to put that charity in the hand of a prostitute.”

Then he said, “Now I am going to put the money in the hand. of someone who deserves it and inshā’Allāh I will not make a mistake.”

And he went out looking and looking and found a person he thought is poor and he gave him money and it was a large amount of money.

If it had not been a lot, he would not have accepted. For example, a prostitute will not take 10 cents, she will throw it in your face. So the people of the city began to speak about him: he is giving his money to a thief, to a prostitute and to a rich person.

And he said, Allāhumma fa-laka ‘l-ħamdu alā sāriqun wa ala zānīyyatin wa alā ghanīyy,
“O Allāh! Praise be to You (for helping me) give charity
to a thief, a prostitute and a rich man.”

He thanked Allāh that it was His Will that he gave to these. Fa ūtīyya, so it means either he heard or saw a vision or heard an angel saying, “your šadaqah to a thief might be the cause for Allāh to drop his being a thief and become a good person. It might be it makes him look bad to himself, and therefore, he stops stealing from people.”

That means “With your šadaqah to a thief, Allāh will turn that bad person to a good person due to the good money you put in his hand. And as for the prostitute, Allāh might make her drop all her bad work due to the šadaqah you gave her.

That means his šadaqah was accepted by Allāh ¹ and by the Prophet ﷺ. As for the rich man, giving him charity might cause him to take an example that a poor man is giving him šadaqah while he doesn’t give šadaqah to anyone, and that might inspire him to find the poor and give him šadaqah.

This ħadīth is mentioned by none other than Bukhārī and so they cannot say it is weak, but from Īmām Bukhārī, this ħadīth shows that if your intention is good and your intention is to give šadaqah to someone in great need, not in need of money to spend, but in need of šadaqah to save him from the bad situation he is in, to know he is bad and while you don’t deserve it, it gives you a moral lesson to stop doing the wrong you are doing. Similarly, it might be the cause for the rich person to begin to giving šadaqah to those who deserve it.

So not everything is just what we read literally, but the reality is behind the meanings, the secret of the wisdom. If we take this ħadīth literally, the Prophet ÿ explained what the man did to give a thief, a prostitute and to a rich person, and we see it turned these people back to a good life. Not everything you have to read literally as there are meanings behind them. Allāh wants us to have wisdom.

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

Agar Kita tidak Mendapat Masalah Sepanjang Hari

18951247_10154666243985886_5997043924126329563_n
 

Nabi (saw) bersabda bahwa kalian harus memulai segala perbuatan kalian dengan “Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim.” Ketika kalian makan, minum atau pergi bekerja, ke manapun kalian pergi, atau ketika kalian mengunjungi seseorang, kalian harus memulainya dengan mengucapkan, “Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim,” ketika kalian minum kalian harus mengucapkan, “Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim,” dan Allah (swt) akan menghilangkan semua masalah dan kesulitan kalian!
 
Dia (swt) tidak akan meninggalkan kesulitan apa pun pada kalian jika kalian memulai hari kalian dengan membuka mata dan mengucapkan, “Asy-hadu an laa ilaaha illa-Llah wa asy-hadu anna Muhammadan `abduhu wa rasuuluh,” kemudian, “Yaa Rabbii! Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim,” lalu bangkit dari tempat tidur dan kalian tidak akan mempunyai masalah pada hari itu.
 
Prophet (s) said that you must begin whatever `amal you do with “Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Raheem.” When you eat, drink or go to work, wherever you go or when you visit people, you must begin by saying, “Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Raheem, when you drink you must say, “Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Raheem,” and Allah (swt) will take away all your problems and difficulties!

He will not leave any difficulty on you if you begin your day by opening your eyes and saying, “Ash-hadu an laa ilaaha illa-Llah wa ash-hadu anna Muhammadan `abduhu wa rasooluh,” and then, Yaa Rabbee! Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Raheem,” then get out of bed and you will have no problems on that day.

Shaykh Hisham Kabbani

Tunjukkan Cinta, Bukan Kebencian

18893379_10154662708830886_5041589497456625027_n
Untuk mencintai seseorang, itulah sikap yang dapat diterima dari kalian. Tunjukkan cinta pada manusia, bukan kebencian. Pada hari ini, bukannya melihat pada orang-orang yang mencintai diri kita untuk meningkatkan cinta itu, kita malah melihat pada mereka yang membenci kita, yang justru menambah kebencian itu! Cinta memberikan kebahagiaan, sedangkan kebencian membawa bencana! Dalam diri kita terdapat begitu banyak karakter-karakter buruk.
 

Loving someone is what is accepted from you. Show love to people, not hate. Today, instead of looking at those who love us to increase that love, we look at those who hate us, which only increases hate! Love brings happiness and hate brings disasters! And in us there are too many different bad manners.

Shaykh Hisham Kabbani

Hujan Pertama di Bulan April

17661798_283446565426979_8022673663939575808_n

HIKMAH AWLIYAULLAH
Mawlana Shaykh Nazim 💞 2010

Kita mengetahui bahwa Tuhan Surgawi menciptakan empat musim di Bumi dan di antara keempat musim itu, musim semi dikenal dengan hujannya, dan ada yang istimewa mengenai hal itu. Sepanjang musim semi, Maret, April dan Mei, dari ketiga bulan ini ada juga hujan yang paling berharga dan bulan semi yang paling berharga adalah April, dan ada hikmah dan alasannya untuk itu. Ia telah terpilih untuk mempunyai keistimewaan itu, karena Khatamul Anbiya, Habibullah ﷺ, yang demi kemuliaannya seluruh makhluk diciptakan–lahir di bulan April!

Ini adalah ilmu tersembunyi dan mengandung khazanah tersembunyi berupa hikmah-hikmah tersembunyi! Dari kedua belas bulan, April adalah yang paling disayangi dan khazanah yang paling berharga dianugerahkan dalam bulan itu. Tuhan Surgawi mengirim hujan yang berharga itu dari Langit untuk mencapai Bumi dan memberi kehidupan baru. Jika hujan tidak turun, Bumi akan kering dan tidak ada lagi yang akan tumbuh. Orang-orang suci memahami bahwa hujan itu berasal dari bawah Arasy yang suci. Jika ia turun setetes, seluruh hujan itu mengambil berkah darinya, kemudian memberikan kehidupan baru kepada segala sesuatu. Ia mengubahnya dan menghilangkan beban berat dari segala sesuatu, khususnya dari manusia. Siapa pun yang mengetahui rahasia ini, ia akan berdiri di bawah hujan itu, membiarkan dirinya dibasahi hujan itu sepenuhnya! 💞

Atas perkenan Sufilive.com

Pakailah Warna Hijau

14708183_1125979720822352_7773219836851062016_n

Wahai manusia! Pakailah (warna) hijau dan penyakit kalian, masalah kalian, dan kesedihan kalian akan hilang. Jika kalian ingin (spiritualitas) kalian terbuka, pakailah (warna) hijau, bahkan jika hanya sebuah sapu tangan, karena itu adalah refleksi Surga di Bumi. Itu membuat nyaman hamba-hamba Allah dan merupakan tanda kehidupan.

~Mawlana Shaykh Nazim Adil an-Naqshbandi

O People! Wear green and your illnesses, your troubles, your sadness will be gone. If you want to (spiritually) open wear green, even if only a handkerchief, as it is the reflection of Heavens on Earth. It comforts the servants of Allah Almighty and is a sign of life.
~Mawlana Shaykh Nazim Adil an-Naqshbandi

Taman Surga di Bumi

14907566_1148032221917796_378733448451355358_n

“Lingkaran ini, halaq adz-dzikr, berubah dan setiap orang berbeda satu sama lain. Nabi (saw)berusaha untuk menyatukan umat bersama, beliau (saw) tidak mengkritik siapapun, beliau mendukung semua orang dan jika mereka bertanya kepadanya, “Apakah hal ini dapat diterima?” Beliau menjawab ya, beliau tidak membalikkan mereka, kecuali bila perkara itu syirik. Jadi kita harus berhati-hati, jika ada Taman Surga di Bumi, zikrullah, kita harus duduk, mendengarkan dan menghargainya.”

Shaykh Hisham Kabbani

“These circles, halaq adh-dhikr, change and everyone is different from the other. Prophet (s) tried to bring the Ummah together, he did not criticize anyone, he supported everyone and if they asked him, “Is this acceptable?” he said yes, did not turn them back unless it was shirk. So we have to be careful, if there is Garden of Heavens on Earth, dhikrullah, we have to sit and listen and appreciate it.”

Shaykh Hisham Kabbani