Tingkat Perkembangan Spiritual

20638629_1423031677751181_5582771087030785975_n
 

Tingkat perkembangan spiritual ada 3, yaitu:
 
Mahabbat al-Masyaikh, “Cinta terhadap Syekh,” lalu Mahabbat al-Habiib, “Cinta kepada Sang Kekasih (Nabi (saw)),” dan Mahabbatullah, “Cinta kepada Allah.”
 
Kemudian Hudhuuru ’l-masyaikh, “Menghadirkan Syekh,” Hudhuuru ’l-Habiib, “Menghadirkan Nabi (saw),” dan Hudhuurullah, “Menghadirkan Allah.”
 
Kemudian Fanaa’un fi ’l-masyaikh, “fana/lenyap dalam diri Syekh,” Fanaa’un fi’l-Habiib, “fana dalam diri Nabi (saw),” dan Fanaa’un fillah, “fana dalam Allah.”
 
Ini adalah tiga tingkatan cinta kepada Allah, Nabi-Nya (saw) dan cinta sesama manusia. Ketika kalian mencintai ketiganya, kalian akan senantiasa mengingatnya dan mereka senantiasa berada di hadapan kalian, seperti halnya anak-anak kalian yang selalu berada di depan kalian, bahkan ketika kalian sedang bekerja–itu adalah karena cinta kalian terhadap mereka. Tidak seorang pun yang dapat menyangkal hal itu, kecuali kalian belum menikah, jika seperti itu mungkin yang kalian lihat adalah pacar kalian (tertawa). Jadi orang-orang melihat sesuatu, terutama para wanita; ketika mereka melihat ada krim baru di pasaran, mereka akan terus memandanginya selama berhari-hari, bulan, bahkan tahun, sampai suaminya membelikannya!
 
Jadi, kalian sungguh dapat melihat wajah anak kalian, mohon maaf–bahkan melebihi wajah istri kalian. Ketika cinta itu meningkat di dalam hati kalian, dari anak-anak kalian hingga kepada Nabi (saw), maka akan terjadi suatu keajaiban. Saya memberikan cara sederhana untuk memahaminya karena mungkin saja ada orang yang mengatakan, “Mengapa engkau mengatakan tentang cinta kepada Nabi (saw) atau cinta kepada awliyaullah atau cinta kepada Allah? Kami tidak bisa melihat apa-apa.” Tidak! Kalian harus membayangkannya dan memikirkan hal ini dengan baik-baik.
 
Nabi (saw) bersabda,
تفكر ساعة خير من عبادة سبعين سنة
Mengingat Allah (swt) (merenung atau bertafakur) selama satu jam, lebih baik daripada tujuh puluh tahun beribadah.
 
The levels of spiritual development

The three levels of spiritual development are :

Mahabbat al-Mashaykh, “Love of the Shaykh,” to Mahabbat al-Habeeb, “Love of the Beloved (Prophet),” to Mahabbatullah, “Love of Allah.” 

Then Hudooru ’l-mashaykh, “Presence of the Shaykh,” Hudooru ’l-Habeeb, “Presence of Prophet,” and Hudoorullah, “Presence of Allah.”

Then Fanaa’un fi ’l-mashaykh, “Annihilation in the Shaykh,” Fanaa’un fi’l-Habeeb, “Annihilation in Prophet,” and Fanaa’un fillah, “Annihilation in Allah.”

These are the three levels of love to Allah, His Prophet (s) and to people. When you love them, you will remember them at every moment and they will always be in front of you, just like your child is always in front of you, even when you are at work, from your love. No one can deny that, unless you are not married, in which case perhaps you may see your boyfriend or girlfriend. (Laughter) So people see something, especially ladies; when they see a new cream in the market they keep seeing it for days and months, even years, until their husband buys it !

So you can really see your child’s face, sorry to say, more than you can see your wife’s. When that love increases in your heart from your children to Prophet (s), miracles happen. I am giving you a simple way to understand because there might be some people saying, “Why do you say love of Prophet (s) or love awliyaullah or love of Allah? We cannot see anything.” No! You must imagine and think well about this.

Prophet (s) said:

تفكر ساعة خير من عبادة سبعين سنة
To remember Allah (swt) (contemplate or meditate) for one hour is better than seventy years of worship.

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

Perkataan dari Shaykh Ala’uddin al-Bukhari al-Attar ( ق )

20933812_1432663663454649_2473648736792741658_o
 
Jika kalian berpikir bahwa kalian telah berperilaku baik, berarti kalian salah, karena memandang diri kalian baik merupakan suatu bentuk kesombongan.
 
Berada di dekat makam orang-orang yang saleh mempunyai pengaruh yang baik terhadap diri kalian, meskipun lebih baik untuk mengarahkan diri kalian kepada jiwa mereka dan itu dapat memberi pengaruh spiritual yang tinggi. Nabi (saw) bersabda, ‘Kirimkanlah shalawat kepadaku di manapun engkau berada.’ Ini menunjukkan bahwa kalian dapat mencapai Nabi (saw) di manapun kalian berada, dan itu juga berlaku kepada para awliya-Nya, karena mereka mendapat kekuatan dari Nabi (saw).
 
Dari buku Classical Islam karya Mawlana Shaykh Hisham Kabbani ( ق )
Quotes from Shaykh Ala’uddin al-Bukhari al-Attar ( ق )

“If you think you are behaving well then you are wrong, because seeing your own behavior as good is itself a form of pride.”

“To be near the graves of pious people has a good influence, although to direct yourself to their souls is better and carries with it a higher spiritual influence. The Prophet said, ‘Send prayers for me wherever you are.’ This indicates that you can reach the Prophet wherever you are, and it applies to His saints as well, because they take their power from the Prophet ﷺ ”

From the book Classical Islam of Mawlana Shaykh Hisham Kabbani ( ق )

Cinta Sejati adalah Kunci ke Surga

20638300_1423028181084864_417378973323400478_n

Suatu hari ketika Nabi (saw) pulang ke rumah, beliau melihat Sayyidah `Aisya (ra) sedang terheran-heran. Nabi (saw) menanyakan hal itu dan dijawab, “Aku melihat hal yang aneh pada hari ini. Aku melihat seorang ibu membawa dua anak yang masih kecil. Ibu itu berkata, ‘Berilah aku sesuatu dari yang telah Allah berikan kepadamu karena aku belummakan selama beberapa hari.'” Adakah pintu yang lebih baik daripada pintu ini? Apakah kita makan atau kita kelaparan?

Sayyidah `Aisya (ra) berkata kepada Nabi (saw), “Tadinya aku meyimpan tiga butir kurma untukmu. Kita tidak mempunyai apa-apa lagi di rumah kecuali ketiga butir kurma tersebut. Maafkan aku, tetapi aku merasa tidak enak terhadap ibu itu, jadi aku berikaan sebutir untuknya dan masing-masing sebutir untuk kedua anaknya.
Anak-anaknya langsung memakan kurma-kurma mereka sedangkan ibunya masih memegang kurmanya di tangannya. Kedua anaknya mulai melihat kurma di tangan ibunya.” Lihatlah apa yang dilakukan karena cinta! “Meskipun ibu itu tidak makan selama berhari-hari, ia membagi kurmanya dan memberikan separuhnya kepada putrinya dan separuhnya lagi untuk putri keduanya.”

Nabi (saw) berkata, ” Cintanya dan apa yang diperbuatnya menyelamatkannya dari azab manapun dan ia akan memasuki Surga tanpa dihisab.”

 

Real love is the key to paradise

One day when Prophet (s) came home, he saw Sayyidah `Ayesha (r) wondering. He asked her and she said, “I saw something strange today. I saw a lady carrying two young babies. She said, ‘Give me something from what Allah gave you as I have not eaten for many days.’” Can there be any door better than this one? Are we eating or are we hungry?
Sayyidah `Ayesha said to Prophet (s), “I had kept three dates for you. We didn’t have anything in the house except for those three dates. Please forgive me, but I felt bad for the lady so I gave one for her and one for each of her children.

The children immediately ate their dates while the mother still had hers in her hand. The two children then began to look at the date that was the mother’s hand.” Look at what love did! “Although she had not eaten for many days, she divided her date and gave half to her daughter and the other half to the other daughter.”

Prophet (s) said, “Her love and her action saved her from any punishment and she will go to Paradise with no account.”

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

Muwahhid Sejati adalah Nabi ﷺ

20622070_1423024907751858_3036858656260359095_n

Allah membuka, mewahyukan kepada Nabi (saw) dari Khazanah ilmu-ilmu-Nya, dan dari rahasia-rahasia-Nya, Allah (swt) membukakan Manifestasi (tajali) dari 99 Asmaul Husna wal Sifaat, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, syariikalahu. Itulah sebabnya para ulama mengatakan bahwa muwahhid sejati, yakni orang yang sungguh-sungguh menyaksikan Keesaan Allah adalah Sayyidina Muhammad (saw), karena beliau menyaksikan Wahyu-Wahyu dan Tajali dari Nama-Nama Indah Allah tersebut yang muncul padanya, dan dari situ beliau memahami Keesaan Ilahiah!

Ketika kalian menambahkan 99 Nama, jawabannya adalah “9”. 99 = 9 + 9 = 18 dan 1 + 8 = 9. Dalam numerologi “9” adalah 0, nol, kosong, tidak ada yang ada kecuali Allah (swt). Jadi satu-satunya orang yang dapat digambarkan sebagai muwahhid sejati, yang bersaksi, “Asy-hadu an laa ilaaha illa-Llaah” adalah Sayyidina Muhammad (saw). Tidak seperti kita; kita muwahhid sesuai dengan posisi kita berada, berjuang di antara yang haqq dan yang batil, dan oleh sebab itu, posisi kita adalah tsumma aamanuu tsumma kafaruu, satu hari beriman, satu hari kafir. [Surat al-Nisaa’, 4:137]

Kita belum mencapai level iman, hanya Sayyidina Muhammad (saw) yang telah mencapainya.

 

The Real Muwahhid is Prophet ﷺ

Allah was opening, revealing to the Prophet (s) from those knowledges, and from the secrets Allah (swt) was opening the Manifestation of the 99 Beautiful Names and Attributes, which has no partner, shareek lahu. That is why `ulama say the real worshipper, muwahhid, the real one who testified to the Oneness of Allah truly is Sayyidina Muhammad (s), because he saw the Revelations and Manifestations of these Names and Attributes that appeared to him, and from them he understood the Divine Oneness!

When you add the 99 Names, the answer is “9”. 99 = 9 + 9 = 18 and 1 + 8 = 9. In numerology “9” is 0, zero; nothing exists except Allah (swt). So the only one that can be described as the real muwahhid, who testifies, “Ash-hadu an laa ilaaha illa-Llaah” is Sayyidina Muhammad (s). Not like us; we are muwahhid according to the station we are in, struggling between good and bad, and therefore, our station is thumma aamanoo thumma kafaroo, one day in belief, the next day in unbelief. [Surat al-Nisaa’, 4:137]
We have not yet reached the level of belief, only Sayyidina Muhammad (s) has.

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

MENGIKUTI SUNNAH: BERSABARLAH

827d8eef-6f60-4124-ac95-1ac736e79199
Shaykh Hisham Kabbani 💕

Awliyaullah menyibukkan diri mereka siang dan malam untuk beribadah kepada Allah ﷻ. Mereka tidak peduli dengan apa yang orang katakan tentang mereka. Allah membuat setiap orang memuji dan membicarakan kelebihan mereka setelah kematiannya, tetapi mereka senantiasa diuji oleh Allah dan Nabi ﷺ setiap hari sepanjang hidupnya. Siapa yang mendapat ujian lebih berat dibandingkan Nabi ﷺ? Di Tha`if, anak-anak melempari batu padanya dan melukai kakinya, tetapi beliau sangat sabar. Kalian akan memenangkan hati orang dengan bersabar. ❤

 

FOLLOW SUNNAH 1: BE PATIENT
Shaykh Hisham Kabbani 💕

Awliyaullah spent their days and nights worshipping Allah ﷻ. They did not care what people said about them. Allah made everyone speak highly of them after their death, but they were tested by #Allah and Prophet ﷺ every day of their lives. Who was more tested than Prophet? In Ta’if, children threw stones at him, wounding his legs, but he was exceedingly patient. You win people’s hearts by being patient. ❤️
_______
#BePatient #BeaRoleModel #FollowSunnah #Sunnah #Hadith #ProphetMuhammad #salawat #Muslims #Islam #ASWJ#Mawlana#ShaykhHisham#ShaykhHishamKabbani #Naqshbandi #Nakşibendi #Naqsybandi #Sufi #Sufism

#MSHCyprus2017 #Sufilive #lifeinlefke

MENGIKUTI SUNNAH: BERBAHAGIALAH

20838933_553062618364060_6762716553499639808_n
Shaykh Hisham Kabbani 💕

Hijab-hijab akan disingkap dan kalian akan berada di Hadirat Allah ﷻ dan Nabi ﷺ. Itulah yang dicari para Awliya, Ilahi Anta Maqshuudi wa ridhaka mathluubi اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ, “Wahai Tuhanku! Engkau adalah tujuanku dan Ridha-Mu yang kucari.” Semoga Allah ridha dengan kita semua.

Kalian harus mencari kebahagiaan dalam segala hal yang kalian lakukan. Bahagilah untuk menghilangkan gosip-gosip dan bisikan Setan ke dalam hati kalian. Jika kalian bahagia, Setan tidak dapat menembus barikade yang kita pasang di hadapannya untuk menunjukkan bahwa kita senantiasa dalam keadaan bahagia setiap saat, dan tidak mau mendengarkan gosip dan kebohongan apa pun hingga akhir hayat. Katakan, “Aku setia dan beriman pada-Mu yaa Allah, yaa Rasulullah!” ❤️

 

FOLLOW SUNNAH 4: BE HAPPY

Veils will disappear and you will be in the Presence of Allah ﷻ and Prophet ﷺ. #Awliya look for that, ilahi Anta Maqsoodi wa ridaka matloobi, “O my Lord! You are my aim and I seek Your pleasure with me.” May #Allah be happy with all of us.

You must find happiness in everything you do. Be happy to throw away gossips that #Shaytan whispers in your heart. If you are happy, he cannot penetrate the obstacle we must put in front of him to show we are happy every moment, not listening to any of his gossips and lies until our soul leaves our body. Say, “I am loyal and faithful to you, #YaAllah, #YaRasulullah!” ❤️

#MSHCyprus2017 #Sufilive #lifeinlefke

Jagalah Qalbumu

20294011_1412000722187610_5675737174261751362_n

ما وسعني أرضي ولا سمائي ولكن وسعني قلب عبدي المؤمن
Maa wasi`anii ardhii wa laa samaa’ii wa laakin wasi`anii qalbi `abdii al-mu’min.
Sesungguhnya langit dan bumi tidak berdaya menampung-Ku, namun qalbu seorang mukmin dapat menampung-Ku. (Hadits Qudsi, Al-Ihya dari Imam al-Ghazali)

“Qalbu hamba-Ku yang belajar tentang fiqh, belajar Syari`ah dan belajar tentang Tazkiyyatu ‘n-Nafs, mensucikan diri, orang yang seperti itu mempunyai sebuah tempat untuk Cahaya-Ku di dalam qalbunya.” Allah tidak mengirim Cahaya-Nya ke sebuah tempat yang kotor.

Keep your heart clean
ما وسعني أرضي ولا سمائي ولكن وسعني قلب عبدي المؤمن
Maa wasi`anee ardee wa laa samaa’ee wa laakin wasi`anee qalbi `abdee al-mu’min.
Neither My Heavens nor My Earth contain Me, but the heart of My believing servant contains Me.
(Hadith Qudsi, Al-Ihya of Imam al-Ghazali)

“The heart of My servant who is learning fiqh, learning Shari`ah and learning Tazkiyyatu ‘n-Nafs, Purification of the Self, that one has a place for My Light in his heart.” Allah does not send His Light to a place that is dirty.

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani