Nasihat untuk para Orangtua

13315700_10207880010092557_5657824066458064115_n

Mawlana Syekh Nazim Al-Haqqani (q)

(Der Morgenstern, Mei-Agustus 1992)
London

Islam mengatakan, lakukan segala sesuatu di rumah.  Di dalam rumah yang islami, sebaiknya ada ruangan yang cukup untuk orangtua, anak-anak kecil, anak-anak yang lebih besar, anak-anak perempuan, laki-laki, tamu-tamu dan orang yang sakit.  Salah satu hal yang penting bagi Muslim adalah membantu tetangganya merawat keluarga mereka yang sakit dan bayi-bayi yang baru dilahirkan.  Di dalam Islam, persalinan sebaiknya dilakukan di rumah, dibantu oleh bidan.  Para tetangga melalukan segala sesuatunya dan mereka senang untuk membantu satu sama lain dalam persalinan anak-anaknya tanpa perlu dibayar.  Sekarang setiap orang yang akan melahirkan akan pergi ke rumah sakit.

Islam mempunyai aturan-aturan untuk konsepsi anak-anak dan seorang pria yang telah menikah harus mematuhi aturan-aturan ini.  Ketika ia akan tidur dengan istrinya, ia tidak boleh dalam keadaan tidak suci, karena orang yang tidak suci adalah terkutuk.  Kita mengetahui dan memahami bahwa keturunan yang dikonsepsi secara tidak suci akan mempunyai sesuatu yang salah dengan mereka, bila tidak secara fisik, sesuatu yang buruk akan mempengaruhi kepribadian mereka; khususnya ketika seseorang yang mabuk tidur dengan istrinya.  Itu akan memberi pengaruh pada karakteristik keturunannya yang akan datang, pengaruh yang buruk pada kepribadian mereka.  Barangkali keturunan yang lebih beringas, tidak punya kasih sayang, tidak adil akan muncul dan mereka tidak mempunyai hormat terhadap orangtua atau orang-orang yang lebih tua.  Sebagai hukuman bagi orang-orang yang tidur bersama ketika mereka mabuk, anak-anak yang dilahirkan akan menentang orangtua mereka, menentang masyarakat, menentang kemanusiaan dan menentang segala peraturan dari Tuhan mereka,  Allah (swt).  Mereka tidak akan peduli dengan aturan surgawi dan tidak peduli dengan segala sesuatu.  Kita berada di zaman ini sekarang.  Oleh sebab itu, sangat penting untuk mensucikan diri baik secara jasmani maupun rohani, bukannya datang pada istri kalian dalam keadaan marah atau kesal, lapar atau sedih.  Karena baik istri maupun suami dalam keadaan seperti itu bukanlah suatu hal yang baik.  Masing-masing harus merasa senang dan bahagia, saling menerima satu sama lain.

Setiap kali seorang pria ingin tidur dengan istrinya, merupakan adab yang baik bagi seorang Muslim untuk berkata, “Wahai wanitaku, aku menerimamu sebagai istriku, seperti halnya di Hadratillah.  Maafkan aku atas segala perbuatan yang menyakitimu, dan aku akan mengampuni dirimu jika engkau menyakitiku.  Aku bahagia bersamamu sebagai istriku dan engkau bahagia bersamaku sebagai suamimu.  Jika Allah memberi kita keturunan, semoga Dia memberkatinya.”  Kemudian orang itu harus memberi sedekah, sebelum ia tidur bersama dan sang wanita harus berusaha membuat dirinya sangat cantik bagi suaminya.  Sekarang para wanita hanya membuat mereka cantik ketika mereka berada di depan umum, bukan di tempat pribadi atau bagi suami mereka di rumah.  Itu adalah perintah Ilahi bagi para wanita untuk membuat diri mereka cantik bagi suami mereka di rumah, di tempat tidur mereka.  Mereka harus membuat diri mereka kelihatan cantik dengan penuh kesenangan dan kebahagiaan, sehingga suami mereka tidak akan melihat orang lain lagi.  Dengan demikian, ketika mereka datang dan tidur bersama, mereka diberkati.  Mereka harus salat dua rakaat sebelumnya dan berdoa … (rekaman terputus)… memberi hadiah untuk membuat istrinya senang.  Ketika istrinya senang dan ia mendapat cinta dari dalam hati suaminya, maka ia juga akan memberikan cintanya dari dalam hatinya.  Allah (swt) kemudian memberkati pertemuan itu dan pernikahan itu, dan keturunan yang baik dengan kecakapan yang istimewa akan lahir.  Itulah  perintah pernikahan di dalam Islam, tetapi orang-orang telah melupakannya sekarang.

Tidak ada (jalan) yang lebih baik daripada Islam.  Itu merupakan pengaturan yang sangat indah yang mendatangkan keberkahan bagi keluarga, karena Islam membenci kekotoran baik jasmani maupun rohani.  Kesucian dan kebersamaan di jalan yang menyenangkan ini akan mendatangkan keturunan dari Surga.  Keturunan yang akan menjadikan dunia sebagai Surga—tenang dan tentram.  Orang-orang yang diberkati berjalan di muka bumi, karena Islam mengatur segalanya sejak saat konsepsi.

Pada saat kelahiran anak, (prosesnya) dibantu bidan.  Kita tahu bahwa bayi tidak bisa berada di rahim ibunya selama setahun atau lebih—beberapa di antaranya barangkali lebih dari sembilan bulan, tetapi sembilan bulan dan sepuluh hari adalah waktu kehamilan yang normal.  Dan ketika Allah (swt) (mengakhiri) makanan bayi di dalam rahim ibunya, maka bayi itu akan lahir.  Islam sangat menentang segala interferensi yang dapat menyakiti bayi atau ibunya, khususnya operasi Caesar.  Ketika seorang wanita siap untuk melahirkan dan teman-temannya akan datang dan mengatakan, “Bismillah, Bismillah. Bismillah, wahai Tuhan kami, biarkan ia keluar dengan mudah, selamat, baik baginya maupun ibunya.  Wahai Tuhan kami, berilah jalan.  Bismillah, Bismillah, Bismillah.  Allahumma shalli `ala Sayyiddina Muhammad.  Allahumma shalli `ala Sayyiddina Muhammad, demi Kekasih-Mu, wahai Tuhan kami, berilah jalan.  Wahai Tuhan kami, Bismillah.”  Dengan demikian, ketika mereka mengatakan hal ini, para malaikat akan membawa bayinya keluar dengan posisi sujud pada kedua tangannya.  Kami tidak percaya bahwa bayi itu harus melihat pisau di hadapan matanya.  Itu adalah sebuah kejahatan besar terhadap si bayi—memperlihatkan pisau pertama kali kepadanya.  Pisau adalah alat pembunuh dan sepatutnya bukan itu  yang pertama kali dilihatnya di dunia ini.  Seperti inilah dunia akan dihancurkan.  Tidak seorang pun mengizinkan mereka untuk menunggu datangnya nyeri saat melahirkan sekarang, mereka tidak dapat menghalanginya di lain pihak orang-orang juga meminta untuk dilakukan operasi Caesar.

Pada saat kelahiran keluarga harus mengeluarkan sedekah dan semua orang di lingkungannya akan datang, untuk menyaksikan dan berbagi kebahagiaan dengan keluarga, juga untuk membantu, memberikan hadiah, membantu ibu dan membatu sang ayah.

Air susu ibu tidak boleh diberikan sebelum tiga adzan dikumandangkan, yakni paling tidak setelah enam jam.  Bayi itu harus mendengar tiga adzan dikumandangkan.  Sesuai tradisi jus delima pertama kali diberikan kepada si bayi.  Sebuah biji (delima) diletakkan di antara kedua bibir bayi, lalu biji itu ditekan, sehingga jusnya keluar dan masuk ke dalam mulutnya.  Kemudian setelah tiga adzan dikumandangkan, ibunya dapat menyusuinya.  Ini seperti puasa, untuk membuat bayi itu menangis.  Ketika ia menangis, paru-parunya terbuka dan segala sesuatu di tubuhnya mulai bekerja.  Bayi yang baru itu belum terbiasa dengan atmosfer dunia ini dan ia harus menunggu sampai adzan dikumandangkan, paling tidak tiga kali—mungkin dalam waktu sepuluh jam, mungkin delapan jam.  Kemudian ketika ia mulai bernapas keluar, dan menangis dan paru-parunya bekerja, darahnya mulai mengalir dan sistem pencernaanya mulai bekerja, ia dapat disusui.

Bayi yang baru dilahirkan tidak segera memerlukan susu.  Sistem pencernaannya belum siap.  Metode baru itu bodoh dengan menyerahkan langsung bayi kepada ibunya untuk segera disusui.  Itu tidak menolong apapun, malah menyakiti.  Bayi baru perlu berpuasa.  Para profesor bisa memikirkan tentang hal ini dan mereka akan mengatakan bahwa itu tidak masalah.  Islam membawa metode terbaik bagi anak-anak agar tubuhnya bisa berfungsi dan mengalami kontak dengan atmosfer yang baru.  Selain itu penting pula untuk menunggu air susu ibu untuk keluar, karena  tubuhnya sangat lelah.  Bayi harus segera diberikan kepadanya untuk dijaga, kemudian ia harus istirahat.  Pada saat itu segala sesuatunya menjadi terbalik dan abnormal bagi bayi dan ibunya.  Seorang manusia mendarat ke bumi dan sangat penting untuk memberi waktu istirahat kepada keduanya.  Biarkan bayi menangis.  Keberkahan turun pada tangisannya.  Rahmat turun padanya dan pada ibunya.  Di dalam Islam, segala sesuatunya sempurna.

Operasi Caesar adalah dilarang dan memberi induksi agar anak cepat lahir juga haram di dalam Islam.  Lebih baik menunggu hingga perintah Ilahi datang dan bayinya siap untuk dilahirkan.  Setiap anak akan lahir dengan kepala yang menunduk pada Tuhannya.  Setan mengajari manusia untuk melakukan operasi Caesar menggunakan pisau, dan tidak membiarkan anak lahir dengan bersujud.

Pada hari ketujuh setelah kelahiran, adzan dikumandangkan di telinga kanan bayi dan iqamat di telinga kiri; kemudian dibacakan Surat “Qu huwallahu ahad” dan bayi itu dipanggil dan namanya diberikan—nama apapun yang diinspirasikan ke dalam hati orangtuanya.  Salah satu dari ketujuh namanya berasal dari hati ibu atau ayahnya.  Setelah itu, seekor kambing disembelih untuk anak perempuan dan dua ekor untuk anak laki-laki, tetapi bila mereka tidak mempunyai cukup uang untuk melakukan hal ini maka satu sudah cukup untuk anak laki-laki.  Dagingnya kemudian dibagikan kepada para tetangga, teman, saudara-saudara dan fakir miskin.  Merupakan tradisi untuk tidak mematahkan tulang kambingnya, sehingga ia harus dimasak secara keseluruhan dan orang-orang akan memakannya seperti itu.  Kemudian, sekali lagi menurut tradisi kita, tulang-belulangnya diambil dan dikubur, kita ucapkan, “Bismillahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim.”  Hal ini membuat kaum jin juga mendapat manfaat dari tulang-belulang itu.  Allah (swt) menciptakan rezeki bagi mereka juga.  Para tetangga harus datang dengan kado-kado mereka dan sedekah mereka, kemudian bergabung dalam acara yang membahagiakan itu.

Selama empat puluh hari setelah kelahiran anak itu, sampai kesucian ibunya kembali, ia harus menjaga dirinya terpisah dan tidak melakukan hubungan dengan suaminya sampai akhir periode tersebut.   Kemudian setelah periode itu ia harus menjaga dirinya untuk tidak menyusui bayinya ketika ia dalam keadaan tidak suci, yakni dalam keadaan tidak berwudu.  Ia harus segera mensucikan dirinya dan barulah ia dapat menyusui bayinya.  Hal ini agar tidak ada yang salah dengan kepribadian anak itu.  Bayi memerlukan susu ibunya, tetapi bila diberikan dalam keadaan suci, bayi itu akan lebih tenang dan dapat beristirahat.  Susu itu akan lebih memuaskannya dan ia akan menikmatinya seratus persen dan tidak membuat masalah.  Satu alasan mengapa bayi memberikan masalah bagi ibunya adalah karena mereka tidak memberikan susu yang suci.  Bahkan jika ia sanggup meminum satu bejana besar yang penuh, mereka tetap tidak akan merasa puas, tetapi jika ibunya mengucapkan, “Bismillahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim” dan ia menyusui dalam keadaan berwudu, susunya akan diberkati, dan bayinya akan bahagia dan ia akan tidur dengan damai.

Sayyidina Muhammad (ﷺ) adalah Cinta

14907227_1145440695510282_6979633500096477608_n

Allah (swt) mengutus Habiib-Nya (Kekasih-Nya) pada Ummah ini. Allah (swt) telah menjadikan Nabi-Nya (ﷺ) sebagai Al-Mahbuub, sebagai Sang Kekasih yang dicintai. Seluruh cinta bersumber dari beliau (ﷺ). Sayyidina Muhammad (ﷺ) adalah Cinta, karena jika tiada cinta, tiada pula Nabi (ﷺ), dan dunya ini pun tidak akan pernah ada. Allah (swt) menciptakan segala sesuatunya demi dan untuk Nuur-i-Muhammad (ﷺ) (Cahaya Muhammad ﷺ) dan karena inilah Dia memerintahkan kita untuk mencintai beliau (ﷺ). Karena itu pulalah Allah (swt) mewahyukan ayat, “Ikuti Muhammad dan Allah akan mencintaimu.”

Shaykh Hisham Kabbani

“Allah (swt) sent His Habeeb to the Ummah. Allah (swt) made His Prophet (s) al-Mahboob, The One to Be Loved. All love is based on him, Sayyidina Muhammad (s) is love and if there is no love, no Prophet (s), there is no dunya. Allah (swt) created everything for Noor-i-Muhammad (s) and this is why He ordered us to love him. That’s why Allah (swt) revealed the verse, “Follow Muhammad and Allah will love you.”

Shaykh Hisham Kabbani

14632998_10154045033385886_6079095598979958011_n
Nabi ﷺ bersabda bahwa musuh terburuk kalian adalah keakuan dalam diri kalian. Dalam badan kalian ada nafs yang merupakan a’da ‘aduwwuka; ego (keakuan) dalam diri kalian adalah musuh terburuk bagi kalian. Jadi, siapakah musuh kalian sekarang? Musuh kita nomor satu adalah diri kita sendiri. Setelah itu, barulah kita boleh melihat kepada yang lain, tetapi pertama-tama lihatlah diri kalian sendiri. Saya melihat begitu banyak orang, mohon maaf, yang tidak bersih. Diri kita tidaklah bersih. Kita semua adalah pendosa yang masih berjuang melawan diri kita sendiri: saya seorang pendosa, kalian pun berbuat dosa; setiap orang melakukan dosa. Semoga Allah mengampuni kita.
 
Shaykh Hisham Kabbani

Prophet ﷺ said that your worst enemy is the self within you. In your body there is that nafs that is a`da `aduwwuka; the ego that is within you is your worst enemy. So who is your enemy now? Our first enemy is ourselves. Later we may look outwards, but first is yourself. I see too many people, sorry to say that, but we are not clean, we are all sinners, struggling: I am a sinner, you are a sinner; everyone makes sins. May Allah forgive us.

Shaykh Hisham Kabbani

Awali dengan Bismillah

14937446_10154048131725886_5627728695172771336_n

Setiap amal yang kalian lakukan tanpa ‘Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim’ tidak akan mengalami kemajuan dan tidak menghasilkan apa-apa. Jadi, hal pertama yang tertulis di sini adalah sesuatu yang dengannya kalian akan memperoleh keberuntungan dan keberhasilan. Karena itu, kita memulai dengan Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahim, yang bermakna, “Dengan Nama Allah, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang” dan kemudian kita mengirimkan shalawat kepada Nabi ﷺ.

Kalian tidak dapat memulai hanya dengan Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim saja, tetapi mestilah menambahnya dengan, “Alhamdulillahi Rabbi ‘l-`aalamiin, wa ‘sh-shalaatu wa ‘s-salaamu ‘alaa Sayyidina Muhammadin wa `alaa aalihi wa shahbihi ajma`iin, ammaa ba`du,” yang juga merupakan cara untuk memulai suatu surat. Inilah cara untuk melompat ke dalam kereta adab. Dalam setiap amal apa pun, kalian mesti berusaha untuk menghilangkan Syaitan, sebab Syaitan selalu berusaha merusak setiap amal yang kalian lakukan!

Shaykh Hisham Kabbani

Any `amal you do without ‘Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Raheem’ is without progress and fruits. so the first thing written here is something from which you get benefit and fruits. So we begin with Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Raheem, which means “In the Name of Allah, the Most Beneficent, the Most Merciful” and then we send salawaat on the Prophet ﷺ.

You cannot begin with Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Raheem only, but must add on “Alhamdulillahi rabbi ‘l-`alameen was-salaatu was-salaamu `alaa Sayyidina Muhammad wa `alaa aalihi wa sahbihi ajma`een, amaa ba`d”, which is the way to begin a letter, as well. This is jumping on the train of adab. In any `amal you must try to eliminate Shaytan, because any `amal you do Shaytan will try to spoil!

Shaykh Hisham Kabbani

Setiap ‘Amal harus Dimulai dengan Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim

14718814_1141842869203398_8907820348127119725_n

“Setiap ‘amal harus dimulai dengan Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim, kemunculan kalian di dunia ini adalah (dengan) Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim dan setiap orang memiliki Tajalli (manifestasi) Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahim yang berbeda untuk muncul di dunia. Engkau tidak memilih untuk memiliki wajah ini, atau dirimu (orang lain, red.) dengan wajah itu. Setiap orang berada di bawah Tajalli, Manifestasi Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahim dengan suatu makna yang berbeda yang hanya Allah (SWT) yang paling mengetahuinya, dan dengan makna itu ia muncul ke dunia ini.”

Syaikh Hisham Kabbani

 

“Every `amal has to begin with Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Raheem, your appearance in dunya is Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Raheem and everyone has a different Tajalli of Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Raheem to appear in dunya. You did not choose that face, or you that face. Everyone is under the Tajalli, Manifestation of Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Raheem in a different meaning that Allah (swt) knows best, and with that he appears.”

Shaykh Hisham Kabbani

Allah bersama Orang yang Sabar

14720570_1141839059203779_4499320052222446867_n

“Jika Allah (swt) mengatakan, “Aku tidak menghukum Kekasih-Ku, tetapi Aku mengujinya,” itu artinya walaupun Dia mencintainya, Dia ingin akan beliau bersabar karena ujian yang paling berat pun akan datang, tetapi bersabarlah atas ujian-ujian ini karena Asmaul Husna wal Sifat Allah (swt) terakhir adalah “ash-Shabuur,” Yang Maha Sabar.”

Shaykh Hisham Kabbani

 

“If Allah (swt) says, “I don’t punish My Beloved One, but I test him,” it means that even though He loves him, He wants him to be patient as even the most heavy test will come, but be patient on these tests as the last of Allah’s (swt) Beautiful Names and Attributes is “as-Saboor,” the Patient”
Shaykh Hisham Kabbani

Kemalasan Berasal dari Syaitan

14604851_10154034511850886_3852127074911801225_n

Kita membahas masalah mencari perlindungan Allah (swt) untuk menyingkirkan Syaitan dari jalan kita, dan Syaitan itu mempunyai banyak cara untuk datang dan menyerang kita, khususnya dalam hal kemalasan. Untuk merasa malas, memberikan pekerjaan kalian kepada orang lain atau mendelegasikan setiap pekerjaan yang ditugaskan kepada kalian adalah salah satu masalah yang dibawa oleh Syaitan agar kita tidak bekerja.

Nabi (saw) mendorong para Sahabat (ra) untuk bekerja. Beliau mengirimkan mereka ke mana-mana dan mereka tidak mengatakan, “Kami harus tinggal bersama keluarga kami, bersama mereka siang dan malam,” atau “Aku harus beristirahat dan tidak bisa bekerja lebih dari satu jam dalam sehari.” Tidak, Nabi (saw) selalu mendorong para Sahabat untuk melakukan pekerjaan yang berat.

Apa yang mereka kerjakan tidaklah mudah, meninggalkan rumah mereka demi Allah (swt) untuk mengajar, mendidik, melakukan pekerjaan konstruksi yang berat dan juga mempertahankan iman. Pekerjaan yang paling sulit adalah berperang, dan mereka tahu bahwa mereka dapat saja terbunuh, tetapi demi cinta kepada Allah (swt) dan Nabi (saw), mereka pun melakukannya.

Shaykh Hisham Kabbani

We are discussing the issue of seeking refuge in Allah (swt) to take Shaytan from our way, and he has too many ways to come and attack us, especially in laziness. To feel lazy, to give your work to someone else or to delegate to others whatever work comes to you is one of the problems that Shaytan brings to make us not work.

The Prophet (s) urged and encouraged the Sahaabah (r) to work. He sent them everywhere and they did not say, “We have to sit with our family, to be with them day and night,” or, “I have to rest and cannot work more than one hour every twenty-four hours.” No, the Prophet (s) always encouraged the Sahaabah to do heavy work.

What they were doing was not easy, leaving their homes behind for the sake of Allah (swt) to teach, educate, to do heavy construction work and also defend the faith. The most difficult work was fighting, and they knew they might be killed, but for the love of Allah (swt) and the Prophet (s) they went.

Shaykh Hisham Kabbani